Kenali Gaya Belajar Anak: Apakah Mereka Visual, Auditori, atau Kinestetik?
Halo, Parents! Apa kabar “medan perang” di rumah hari ini? Maksudnya, momen saat menemani anak belajar atau mengerjakan PR. Apakah berjalan damai, atau berakhir dengan drama air mata dan omelan?
Seringkali kita sebagai orang tua merasa frustrasi. Kita merasa sudah menjelaskan materi berkali-kali, sudah membelikan buku pelajaran paling mahal, bahkan sudah mendaftarkan mereka ke Cambridge School Jakarta yang terkenal dengan kurikulum internasionalnya yang unggul. Tapi kok, rasanya materi itu mental terus ya? Anak terlihat bengong, atau malah sibuk mainin pensil dan kakinya goyang-goyang terus.
Dalam momen putus asa itu, kadang terlintas pikiran negatif: “Duh, anakku kok lambat ya nangkapnya?” atau “Apa dia kurang pintar?”
Tunggu dulu, Parents. Jangan buru-buru menyalahkan kecerdasan anak, apalagi menyalahkan genetik. Besar kemungkinan, masalahnya bukan pada kapasitas otak mereka, melainkan pada metode penyampaiannya.
Ibarat Parents punya mobil Ferrari tapi diisi bahan bakar solar, pasti mogok kan? Bukan salah mobilnya, tapi salah bahan bakarnya. Nah, setiap anak punya “bahan bakar” belajar yang berbeda-beda. Dalam dunia psikologi pendidikan, ini dikenal dengan istilah Gaya Belajar atau Learning Styles.
Mengenali gaya belajar anak ibarat menemukan frekuensi radio yang pas. Sekalinya ketemu, suara yang tadinya kresek-kresek akan berubah jadi jernih dan merdu. Yuk, kita bedah satu per satu tipe gaya belajar utama (V-A-K) dan bagaimana cara kita sebagai orang tua bisa memfasilitasinya!
Mengenal Konsep V-A-K (Visual, Auditori, Kinestetik)
Konsep ini sebenarnya sudah lama dikembangkan oleh Neil Fleming. Intinya, setiap otak manusia punya preferensi cara menyerap, memproses, dan menyimpan informasi. Meskipun manusia bisa menggunakan ketiga cara tersebut, biasanya ada satu yang paling dominan.
Mengetahui tipe dominan anak akan sangat membantu Parents—dan juga guru di sekolah—untuk menyusun strategi belajar yang efektif.
1. Si Visual (Mata Elang)
Tipe Visual adalah anak yang belajar lewat Mata. Bagi mereka, “A picture is worth a thousand words”. Mereka harus melihat dulu baru percaya atau paham.
Ciri-ciri Khas:
- Suka sekali buku bergambar, komik, atau video.
- Sangat teliti terhadap detail warna dan bentuk (misal: protes kalau bajunya nggak matching).
- Sering lupa nama orang, tapi ingat wajahnya.
- Catatan bukunya biasanya rapi, penuh warna, atau ada doodle-nya.
- Cenderung duduk tenang dan memperhatikan gerak bibir atau ekspresi guru saat mengajar.
Tantangan: Anak visual akan sangat menderita kalau diajar dengan metode ceramah panjang lebar tanpa alat bantu visual. Mereka akan cepat bosan dan melamun (membayangkan gambar di kepala mereka).
Strategi Belajar untuk Si Visual:
- Gunakan Mind Mapping: Jangan menyuruh mereka menghafal teks paragraf panjang. Ubah materi jadi peta konsep dengan cabang-cabang berwarna-warni.
- Flashcards: Kartu bergambar sangat efektif untuk menghafal kosakata atau rumus.
- Video Edukasi: Zaman sekarang banyak konten YouTube edukatif. Bagi anak visual, nonton video sejarah 10 menit lebih masuk daripada baca buku sejarah 1 jam.
- Color Coding: Ajarkan mereka memakai stabilo (highlighter) beda warna untuk poin-poin penting di buku catatan.
2. Si Auditori (Pendengar Setia)
Tipe Auditori adalah anak yang belajar lewat Telinga. Mereka menyerap informasi melalui suara, musik, dan diskusi verbal.
Ciri-ciri Khas:
- Suka bicara sendiri (self-talk) saat sedang melakukan sesuatu.
- Mudah menghafal lirik lagu atau jingle iklan.
- Suka dibacakan dongeng atau cerita.
- Senang berdiskusi dan banyak tanya.
- Mudah terganggu oleh suara bising saat belajar (karena telinganya sensitif).
Tantangan: Anak auditori sering dianggap “cerewet” di kelas karena mereka butuh mengeluarkan suara untuk memproses informasi. Menyuruh mereka membaca dalam hati (silent reading) dalam waktu lama adalah siksaan bagi mereka.
Strategi Belajar untuk Si Auditori:
- Baca Keras-Keras: Izinkan mereka membaca materi pelajaran dengan suara lantang. Suara mereka sendiri akan masuk ke telinga dan terekam di otak.
- Rekam Suara: Gunakan fitur voice recorder di HP. Rekam ringkasan materi, lalu biarkan mereka mendengarkannya ulang sambil santai atau mau tidur (seperti dengerin podcast).
- Diskusi/Tanya Jawab: Ajak mereka ngobrol soal pelajaran. “Tadi di sekolah belajar apa? Coba ceritain ke Mama dong.” Saat mereka menjelaskan (teaching back), di situlah mereka paham.
- Belajar Pakai Musik: Beberapa anak auditori justru lebih fokus kalau ada musik latar (instrumental/klasik) karena itu memblokir suara-suara gangguan lain.
3. Si Kinestetik (Si Nggak Bisa Diam)
Nah, ini dia tipe yang paling sering bikin orang tua dan guru konvensional pusing. Tipe Kinestetik belajar lewat Gerakan dan Sentuhan. Mereka harus mengalami sendiri (hands-on) untuk bisa paham.
Ciri-ciri Khas:
- Susah duduk diam dalam waktu lama, kaki goyang-goyang, tangan mengetuk-ngetuk meja.
- Suka pelajaran olahraga, seni, atau praktikum sains.
- Bicaranya pelan, tapi gestur tubuhnya banyak.
- Sering menyentuh orang saat bicara.
- Punya koordinasi tubuh yang bagus (atletis).
Tantangan: Sayangnya, sistem sekolah tradisional yang menuntut murid “duduk manis lipat tangan” adalah musuh alami anak kinestetik. Mereka sering salah dilabeli sebagai anak nakal, hiperaktif, atau gangguan konsentrasi (ADHD), padahal mereka cuma butuh bergerak untuk mengaktifkan otaknya.
Mencoba menyuruh anak kinestetik untuk duduk diam berjam-jam saat belajar itu ibarat mencoba menahan bola pantai di dalam air; sekuat apa pun kita tekan, ia akan terus mendesak ingin keluar ke permukaan. (Majas Simile).
Strategi Belajar untuk Si Kinestetik:
- Belajar Sambil Bergerak: Izinkan mereka menghafal sambil jalan mondar-mandir di kamar, atau sambil melempar bola ke dinding.
- Role Play: Kalau belajar sejarah, ajak mereka bermain peran jadi pahlawannya.
- Eksperimen Langsung: Jangan cuma baca teori “es mencair”. Ambil es batu, taruh di piring, biarkan dia pegang dan amati prosesnya.
- Istirahat Pendek: Gunakan teknik Pomodoro. Belajar 15-20 menit, lalu istirahat 5 menit untuk lari keliling rumah atau stretching.
Hubungannya dengan Kurikulum Internasional (Cambridge)
Lalu, apa hubungannya gaya belajar ini dengan pemilihan sekolah?
Sangat erat, Parents. Jika Parents memilih sekolah yang masih menggunakan metode “Satu Ukuran untuk Semua” (One Size Fits All), di mana guru hanya berceramah di depan kelas (metode Auditori) dan murid mencatat (Visual pasif), maka kasihan sekali anak-anak yang punya gaya belajar Kinestetik atau Visual aktif.
Di sinilah keunggulan kurikulum internasional seperti Cambridge Assessment International Education. Kurikulum ini dirancang tidak hanya untuk transfer ilmu, tapi untuk mengembangkan kompetensi siswa secara holistik.
Dalam penerapannya di sekolah-sekolah Cambridge di Jakarta, metode pengajarannya sangat variatif dan mengakomodasi ketiga gaya belajar tersebut:
- Active Learning: Cambridge sangat menekankan pembelajaran aktif. Siswa tidak hanya duduk, tapi melakukan proyek, diskusi kelompok, dan presentasi. Ini surga bagi anak Kinestetik dan Auditori.
- Materi Visual yang Kaya: Buku-buku dan sumber daya Cambridge biasanya didesain sangat menarik secara visual, membantu anak tipe Visual.
- Critical Thinking: Siswa diajak berpikir kritis, bukan menghafal mati. Ini memungkinkan anak menggunakan gaya berpikir mereka masing-masing untuk memecahkan masalah.
Jadi, ketika anak Parents bersekolah di lingkungan yang paham tentang keberagaman gaya belajar ini, mereka tidak akan merasa “bodoh” hanya karena mereka tidak bisa duduk diam. Mereka akan merasa difasilitasi.
Bahaya Labeling: Jangan Kotak-kotakkan Anak
Meskipun mengetahui gaya belajar itu penting, ada satu hal yang perlu Parents waspadai: Neuromyth. Jangan sampai kita terjebak mengotak-kotakkan anak secara kaku.
“Ah, anakku kan Visual, jadi dia nggak usah dengerin penjelasan guru, liat gambar aja.” Salah besar.
Manusia itu kompleks. Kebanyakan dari kita adalah Multimodal, artinya kita menggunakan kombinasi dari ketiga gaya tersebut, meskipun ada satu yang dominan. Tujuannya mengenali gaya belajar bukan untuk membatasi, tapi untuk memperkaya strategi.
Idealnya, anak Visual tetap harus dilatih kemampuan mendengarnya (Auditori) dan ketkasannya (Kinestetik), supaya mereka jadi pembelajar yang adaptif di situasi apa pun.
Tips Praktis untuk Orang Tua di Rumah
Setelah tahu gaya belajar anak, apa yang harus kita lakukan di rumah mulai hari ini?
- Observasi Tanpa Menghakimi Perhatikan saat anak main game atau main lego. Apakah dia baca instruksinya dulu (Visual/Auditori) atau langsung coba-coba pasang (Kinestetik)? Observasi ini lebih akurat daripada tes psikologi sekalipun.
- Sesuaikan Ruang Belajar
- Visual: Pastikan meja bersih, pencahayaan terang, tempel poster edukasi di dinding.
- Auditori: Pastikan ruangan tenang, jauh dari TV. Boleh pasang musik instrumen low volume.
- Kinestetik: Berikan ruang gerak (space) yang cukup. Sediakan stress ball atau mainan fidget untuk dimainkan tangannya saat sedang baca buku.
- Komunikasi dengan Guru Jangan ragu diskusi dengan wali kelas. “Bu, anak saya sepertinya tipe Visual. Boleh nggak dia duduk di barisan depan supaya jelas melihat papan tulis?” Sekolah yang baik pasti akan mengakomodasi ini.
- Validasi Keunikan Mereka Kalau anak Kinestetik Parents susah diam, jangan dimarahi. Katakan, “Mama tahu kamu butuh gerak biar fokus. Nggak apa-apa, kamu boleh goyangin kaki, asal mata tetap ke buku ya.” Penerimaan ini membuat anak merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
Kesimpulan: Setiap Anak Adalah Jenius
Albert Einstein pernah berkata, “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” (Semua orang itu jenius. Tapi jika Anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan percaya bahwa dirinya bodoh).
Mengenali gaya belajar anak adalah cara kita memastikan “Sang Ikan” berenang di air, dan “Sang Monyet” memanjat pohon. Bukan sebaliknya.
Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang memanusiakan keunikan setiap anak.
Jika Parents sedang mencari mitra pendidikan yang benar-benar memahami dan menerapkan pendekatan personal terhadap berbagai gaya belajar siswa—bukan sekadar janji manis—Global Sevilla adalah tempat yang tepat. Sekolah kami yang menerapkan kurikulum Cambridge berdedikasi untuk memfasilitasi setiap tipe pembelajar, baik itu si Mata Elang, si Pendengar Setia, maupun si Nggak Bisa Diam, agar mereka bisa bersinar dengan cara mereka sendiri. Mari bergabung bersama kami untuk memaksimalkan potensi emas buah hati Anda. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi pendidikan.2
+ There are no comments
Add yours